GIBM Desak Presiden Prabowo Mundur dari BoP: "Kecurigaan Iran adalah Sinyal Bahaya bagi Politik Bebas Aktif"


Blitar Bumi Bung Karno– Gelombang kritik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah pasca pecahnya perang Amerika Serikat (AS) versus Iran terus mengalir deras. Kali ini, Gerakan Indonesia Berani Maju (GIBM) melayangkan desakan keras agar Presiden Prabowo Subianto segera menarik Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).

Ketua Umum GIBM, Haryono,S.H.,M.H.menegaskan bahwa keputusan bergabung dengan BoP kini menjadi bumerang diplomatik yang mengancam kedaulatan serta posisi tawar Indonesia di panggung internasional.

Krisis Kepercayaan dari Teheran
Menurut Haryono, indikasi ketidaknetralan Indonesia yang mulai dicurigai oleh Teheran adalah alarm keras. Iran, sebagai aktor kunci di Timur Tengah, mulai memandang Indonesia condong ke blok Barat karena keterikatannya dalam BoP yang didominasi pengaruh Washington.

"Syarat mutlak menjadi mediator adalah netralitas. Begitu Iran mencurigai kita tidak netral, maka tamatlah peran Indonesia sebagai juru damai. Kita hanya akan dianggap sebagai perpanjangan tangan kepentingan AS," ujar Haryono dalam keterangan resminya di Kota Blitar, Kamis (5/3/2026).

GIBM menilai, alih-alih membawa perdamaian, BoP justru terjebak dalam polarisasi kekuatan global yang menyeret Indonesia ke dalam konflik yang bukan merupakan kepentingan nasional kita.

Analisis tajam yang disampaikan GIBM juga menyoroti sektor domestik. Perang AS-Iran telah memicu volatilitas harga minyak mentah yang melampaui asumsi APBN 2026. Haryono menekankan bahwa Presiden harus bertanggung jawab atas dampak ekonomi yang dirasakan rakyat akibat pilihan aliansi yang tidak strategis ini.

"Rakyat jangan dikorbankan demi prestise diplomasi yang semu. Kenaikan harga energi di dalam negeri adalah bukti nyata bahwa bergabungnya kita ke BoP tidak menguntungkan secara kalkulasi ekonomi maupun politik," tegasnya.

Tak hanya menyasar eksekutif, GIBM juga meminta DPR RI untuk tidak tinggal diam. Haryono mendesak parlemen segera memanggil pemerintah untuk memberikan penjelasan transparan mengenai komitmen rahasia apa pun di dalam BoP.

"DPR harus bertanya: Apa untungnya bagi rakyat? Jika hanya mendatangkan risiko keamanan bagi personel militer kita di zona merah dan merusak hubungan dengan negara sahabat, maka keluar dari BoP adalah harga mati," tambahnya.

Tiga Tuntutan Utama GIBM:
1.Mengaudit ulang dampak negatif bergabungnya Indonesia ke BoP terhadap stabilitas nasional.

2.DPR RI wajib meminta penjelasan detail mengenai arah politik luar negeri yang dinilai melenceng dari prinsip "Bebas Aktif".

3.Indonesia harus segera menyatakan pengunduran diri dari BoP untuk memulihkan martabat diplomasi non-blok.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana Kepresidenan maupun Kementerian Luar Negeri belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan dari GIBM tersebut(Hr)

Postingan populer dari blog ini

Oknum Anggota Polres Blitar Di Duga Tipu Warga

Bupati Blitar Jangan Mau Jadi Boneka Wakil Bupati

Arogansi Aparat Dalam Pembubaran Sound karnaval Nglegok, Membuat Masyarakat Trauma