Puluhan Santri Jadi Korban Dalam Tragedi Ponpes Sidoarjo, Pengacara Desak Polda Jatim Bongkar Dugaan Kelalaian Konstruksi


KantorhukumH&P.com – Peristiwa ambruknya musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, yang menewaskan sejumlah santri dan melukai puluhan lainnya, memantik desakan agar kepolisian tidak berhenti hanya pada tahap evakuasi.

Pengacara Haryono, S.H., M.H., dari Kantor Hukum Haryono and Partners, Kota Blitar, menegaskan perlunya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap pihak mana saja yang bertanggung jawab secara hukum.

 “Kejadian ini bukan semata musibah. Ada dugaan unsur kelalaian dalam pembangunan yang harus diusut. Polda Jatim jangan ragu mengusut tuntas dan menetapkan pihak yang bertanggung jawab, baik kontraktor, pengawas, maupun pengelola,” ujar Haryono  Selasa (1/10/2025).

Menurut Haryono, indikasi awal dari berbagai laporan menunjukkan adanya kelemahan fondasi dan dugaan pembangunan tanpa standar teknis yang memadai. Hal itu, kata dia, harus diperjelas melalui audit teknis dan pemeriksaan izin bangunan.

“Bangunan tempat santri menimba ilmu mestinya aman dan sesuai standar. Kalau terbukti ada yang lalai, harus ada konsekuensi hukum. Jangan sampai korban-korban ini dianggap sekadar angka,” tegasnya.

Ia menambahkan, tragedi di Ponpes Sidoarjo menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan aparat hukum untuk memperketat pengawasan terhadap pembangunan gedung di lingkungan pesantren.

“Pesantren adalah pusat pendidikan dan ibadah. Tidak boleh ada toleransi terhadap praktik pembangunan serampangan yang mengancam nyawa santri,” kata Haryono.

Sebelumnya, musala sekaligus asrama santri di Ponpes Al-Khoziny ambruk saat dipakai salat Ashar, Senin (29/9/2025). Peristiwa itu menewaskan sejumlah santri dan melukai puluhan lainnya. Hingga kini, tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan penyelidikan penyebab pasti runtuhnya bangunan(H&P)

Postingan populer dari blog ini

Oknum Anggota Polres Blitar Di Duga Tipu Warga

Bupati Blitar Jangan Mau Jadi Boneka Wakil Bupati

Arogansi Aparat Dalam Pembubaran Sound karnaval Nglegok, Membuat Masyarakat Trauma