Program Dapur MBG Untungkan Kapitalis,Politisi dan Spekulan, UMKM Lokal Tersingkir
Blitar KantorhukumH&P.com_ Program Makan Bersama Gratis (MBG) menuai sorotan tajam. Haryono, S.H., M.H., pengacara dari Kantor Hukum Haryono and Partners di Kota Blitar, menyebut program tersebut berpotensi menjadi ajang pembodohan rakyat jika tidak dikelola dengan benar dan transparan.
Menurut Haryono, para pengelola dapur MBG se-Indonesia sebenarnya sudah memperoleh keuntungan besar tanpa harus mengurangi kualitas makanan. Dengan perhitungan sederhana, keuntungan minimal yang diraup mencapai Rp140 juta per bulan.
“Anggaran per porsi sebesar Rp15.000, yang dialokasikan untuk makanan Rp10.000. Sisanya Rp2.000 untuk sewa sarana prasarana, dan Rp3.000 untuk operasional. Jika satu dapur mengelola 3.500 porsi per hari selama 20 hari, maka keuntungan bersih dari pos sewa mencapai Rp140 juta per bulan. Dalam setahun lebih dari Rp1 miliar,” ungkap Haryono, Jumat (19/9/2025).
Haryono menegaskan, dengan keuntungan sebesar itu, seharusnya pengelola dapur tidak lagi “mencuri" biaya produksi makanan yang sejatinya menjadi hak rakyat. “Dana Rp10.000 itu harus murni untuk kualitas makanan. Jangan sekali-kali dikurangi/dikorupsi, karena keuntungan mereka sudah sangat besar dan sah,” atau anda semua masuk bui.ujarnya.
Lebih lanjut, Haryono menilai pemerintah tidak perlu repot menyediakan dapur MBG dengan alokasi anggaran tambahan Rp5.000 per porsi. Ia mengusulkan agar pemerintah bekerja sama dengan depot, warung, atau rumah makan lokal. Menurutnya, langkah ini jauh lebih efektif dan memberi manfaat ganda.
“Pertama, pemerintah bisa menghemat anggaran Rp5.000 per porsi. Kedua, sekaligus memberdayakan UMKM lokal. Ketiga, menjaga kualitas makanan, karena pelaku UMKM kecil kemungkinan merusak usaha mereka sendiri dengan cara curang,” kata Haryono.
Ia juga menyoroti profil para pengelola dapur MBG yang disebutnya tidak memiliki keahlian di bidang kuliner. “Mereka bukan ahli makanan, melainkan para pemilik modal atau spekulan. Jadi wajar kalau program ini lebih berorientasi keuntungan, bukan pemberdayaan rakyat,” tegasnya.
Haryono berharap pemerintah meninjau ulang sistem pengelolaan MBG agar tidak hanya menguntungkan segelintir orang. “Program ini harus benar-benar menyentuh rakyat kecil, bukan menjadi ladang bisnis bagi para kapitalis,Politsi dan spekulan” pungkasnya(H&P).