Siapa Bilang Kita Sudah Merdeka?
BLITAR– Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai seremoni upacara bendera atau pesta rakyat semata. Pada usia ke-80 tahun, bangsa ini justru tengah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengusir penjajah fisik.
Kantor Hukum Haryono & Partners, yang dipimpin oleh Haryono, S.H., M.H., mengajak seluruh elemen bangsa untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Menurut Haryono, kemerdekaan adalah kebebasan dari segala bentuk penindasan, termasuk penindasan yang justru lahir dari anak bangsa sendiri.
"Para pahlawan telah berjuang hingga tetes darah penghabisan demi merebut kedaulatan dari tangan penjajah. Namun, apakah kita sudah benar-benar merdeka?" ujar Haryono. "Hari ini, kita menghadapi musuh yang tidak kasat mata—bersembunyi di balik jas, jabatan, dan lencana kekuasaan—yang menggerogoti bangsa dari dalam."
Narasi kemerdekaan hari ini, lanjut Haryono, telah dicederai oleh praktik-praktik yang merusak fondasi negara. Mafia anggaran dengan rakus merampas uang rakyat yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur. Sementara itu, mafia tanah menyingkirkan hak-hak agraria masyarakat kecil, hingga mereka terusir dari tanah leluhur yang diwariskan turun-temurun.
"Apakah kita rela perjuangan para pahlawan hanya berakhir pada kekuasaan yang korup? Apakah hati nurani kita tidak terusik melihat rakyat kecil yang termiskinkan di tanahnya sendiri?" tanya Haryono dengan nada prihatin.
Lebih parah lagi, mafia hukum telah mencederai pilar keadilan. Hukum, yang seharusnya menjadi benteng bagi rakyat kecil, kini kerap diperdagangkan demi kepentingan segelintir orang.
"Kemerdekaan sejati adalah tentang keadilan. Tanpa keadilan, kita hanya menjadi bangsa yang merdeka secara simbolis, tetapi sejatinya masih terjajah oleh ketidaksetaraan," tegasnya.
Di momentum sakral HUT ke-80 RI ini, Haryono & Partners menyerukan kepada para pemimpin bangsa, pejabat publik, dan seluruh elemen masyarakat untuk kembali pada jati diri yang diwariskan para pendiri bangsa.
"Hentikan nafsu serakah yang merusak negeri. Ingatlah, jabatan dan kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri," kata Haryono.
Ia menegaskan, bangsa ini dibangun di atas semangat pengorbanan, gotong royong, dan keadilan sosial—bukan di atas korupsi dan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan sejati baru dapat terwujud ketika seluruh rakyat hidup sejahtera, aman, dan mendapatkan keadilan tanpa terkecuali.
"Mari kita jadikan 80 tahun kemerdekaan ini sebagai momentum revolusi mental. Mari kita bebaskan bangsa ini dari cengkeraman mafia dan praktik korupsi. Itulah cara terbaik untuk menghormati perjuangan para pahlawan," tutup Haryono.(Hry)